Dishub Kota Kediri: Ojek Online Membuka Lapangan Pekerjaan Baru

233

Ojek online sudah merambah Kota Kediri. Kini ratusan pengendara mudah ditemui di berbagai sudut kota. Dinas perhubungan (dishub) pun memantau operasionalnya demi menjaga kondusivitasnya.

“Sejauh ini kita masih melakukan monitoring saja untuk ojek online. Saat ini diperkirakan sudah ada 100 driver,” terang Ferry Djatmiko, kepala Dishub Kota Kediri, kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Menurutnya, dishub sifatnya masih pasif memantau. Pasalnya, belum ada aturan khusus untuk ojek online. Sehingga tidak ada hak untuk intervensi terkait kegiatan operasinya. “Kita masih menunggu aturan Kemenhub (Kementerian Perhubungan). Jadi sejauh ini kita hanya pantau saja,” ujarnya.

Meski semakin banyak ojek online di kota, menurut Ferry, tidak ada masalah. Bahkan keberadaan mereka cukup membantu mobilitas warga yang membutuhkan. “Juga membuka lapangan pekerjaan baru,” imbuhnya.

Apalagi jika bandara jadi dibangun di wilayah barat Sungai Brantas, Kabupaten Kediri. Perekonomian Kota Kediri nantinya diprediksi akan kian berkembang. Sehingga mobilitas warganya juga semakin tinggi.

Makanya kelak aturan tentang ojek online sangat diperlukan. Itu agar jumlah driver yang diperkirakan bertambah tetap beroperasi dengan tertib. “Pastinya nanti Kota Kediri makin membutuhkan aturan tentang ojek online juga,” tandasnya.

Baca:

Makanya saat ini Ferry masih terus berharap aturan ojek online bisa segera diturunkan agar jumlahnya yang semakin banyak bisa diatur dan dikendalikan. Sehingga situasi Kota Kediri tetap kondusif. Tak sampai ada insiden seperti di kota-kota lain.

“Semoga Kota Kediri tetap tenang dan kondusif meski mulai banyak perubahan yang terjadi,” tegasnya kepada wartawan koran ini.

Sementara itu, Slamet Budiono, salah satu driver Gojek, menjelaskan bahwa dirinya terdaftar resmi sejak 25 Juli lalu. Menurutnya, order di Kota Kediri cukup banyak meski tidak sebanyak di kota besar. Dari sekian panggilan, sebagian besar adalah jasa go-food.

“Daripada antar penumpang, lebih banyak permintaan untuk antar makanan,” terang pria asli Tosaren saat ditemui di sela-sela mangkal (11/8).

Makanya sebagian besar driver standby di sekitar Jalan Joyoboyo dan Kediri Mall. Tidak jarang mereka ikut mengantre di foodcourt maupun rumah-rumah makan. Jika jam sekolah, banyak pula yang menunggu orderan di sekitar Jalan Veteran, Mojoroto, Kota Kediri.

Dalam sehari, Slamet mengaku, bisa mendapatkan delapan orderan dengan tarif rata-rata sekitar Rp 8 ribu. “Kadang juga sepi, tapi ya lumayan daripada tidak ada kerjaan,” tambah pensiunan satpam tersebut.

Tidak hanya beroperasi di Kota Kediri. Jangkauan para driver sampai di Kabupaten Kediri. Hanya saja ada batas-batasnya. Mulai dari Desa Ngebrak, Kecamatan Gampengrejo di sisi utara hingga ke Kandat di sisi selatan. Sedangkan di sisi timur, mulai dari Wates hingga batas baratnya di Gringging, Kecamatan Grogol. “Orderan di luar itu tidak akan masuk ke aplikasi kita,” pungkasnya.

(jawapost/tow)