Dampak Luar Biasa GO-JEK pada Industri Teknologi Asia Tenggara

4

Pada tahun 2017, GO-JEK menjadi satu-satunya perusahaan asal Asia Tenggara yang berhasil masuk dalam daftar Change the World dari majalah Fortune. Tapi apakah GO-JEK benar-benar mengubah dunia, atau ini hanyalah ekspektasi yang ada terlalu tinggi?

Awal yang menakjubkan

Indonesia telah bergabung dalam industri teknologi dunia dengan sangat meyakinkan. Sederet startup lokal tumbuh menjadi unicorn yang mengalami lonjakan pangsa pasar dan nilai valuasi. Selain GO-JEK, ada unicorn lain seperti layanan online travel agent Traveloka dan marketplace online Tokopedia.

Kondisi ini tidak mengherankan. Pertumbuhan pesat perusahaan-perusahaan teknologi di Indonesia yang langsung berinteraksi pada konsumen didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil (sekitar 5 persen tiap tahun). Indonesia mengalami perkembangan pasar kelas menengah dengan pendapatan yang lebih besar, penetrasi ponsel yang terus meningkat, dan semakin besarnya volume transaksi uang elektronik.

Menurut data Global Findex dari World Bank, hanya 19,6 persen warga Indonesia berusia lebih dari 15 tahun memiliki rekening bank pada tahun 2011. Tetapi pada tahun 2017, angkanya hampir mencapai 50 persen.

Perluasan akses layanan keuangan dasar mengikuti tingkat penetrasi ponsel. Peningkatan akses ini wajar, mengingat persentase warga Indonesia yang memakai ponsel untuk mengakses internet meningkat dari 53 persen di 2010 menjadi 92 persen pada 2016.

Salah satu aktivitas yang mendorong warga Indonesia untuk memakai internet adalah belanja online. Pada tahun 2011, Bank Indonesia mencatat 41 juta transaksi e-money senilai Rp981 miliar. Pada tahun 2017, terjadi 943 juta transaksi e-money bernilai Rp12,37 triliun. Angka yang tercatat pada tahun 2018 diperkirakan akan lebih tinggi.

Data ini menceritakan hal menarik, yaitu orang-orang Indonesia menjadi semakin paham dan terhubung dengan dunia digital seiring mereka mendapatkan penghasilan bersih yang meningkat. Ini mendorong pertumbuhan besar-besaran di ekosistem digital Indonesia dan menciptakan peluang pasar yang sangat besar.

Posisi unik

Menurut studi yang digelar Google dan Temasek, nilai pasar e-commerce di Asia Tenggara—termasuk untuk jasa transportasi, pengantaran makanan, dan belanja online—akan mencapai US$240 miliar (setara Rp3,4 kuadriliun saat ini) per tahun pada 2025. Dari nilai total tersebut, US$100 miliar (setara Rp1,4 kuadriliun) diperkirakan berasal dari Indonesia.

Apakah perusahaan-perusahaan seperti GO-JEK menciptakan tren ini? Mungkin tidak. Ekonomi digital Indonesia tampaknya akan tetap mengarah ke kondisi ini meski GO-JEK, Traveloka, atau startup unicorn lokal lainnya tidak ada.

Tetapi dengan pengetahuan mendalam tentang kondisi pasar domestik dan seluk-beluk regulasi, perusahan-perusahaan ini sangat sempurna untuk memanfaatkan peluang bernilai Rp1,4 kuadriliun. Ini menjelaskan kenapa perusahaan modal ventura seperti Sequoia Capital dan Alibaba berlomba-lomba menginvestasikan triliunan ruipah ke sektor e-commerce yang sedang berkembang dan perusahaan teknologi unicorn di Indonesia.

Dengan mengurangi biaya transaksi dan memudahkan pelanggan untuk membeli barang dan jasa, startup teknologi Indonesia berperan penting dalam menghidupkan daya konsumsi domestik, yang menjadi komponen utama pertumbuhan ekonomi negara baru-baru ini.

Jika melihat PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Jakarta sejak 2014 (saat GO-JEK meluncurkan aplikasi mobile miliknya), konsumsi untuk hotel, restoran, dan layanan makanan yang menjadi penawaran utama GO-JEK dan Traveloka, telah meningkat sangat pesat dibandingkan layanan lainnya.

Lahan yang lebih hijau

Bagian lain dari teka-teki ini, setidaknya dalam kasus GO-JEK, adalah apakah mereka menggunakan kekuatan pasarnya yang besar untuk mengurangi upah ratusan ribu pengemudi berjaket hijau yang bekerja untuk perusahaan.

Setelah Uber keluar dari pasar Asia Tenggara tahun lalu, ojek online dan layanan pengiriman menggunakan aplikasi pada dasarnya telah disudutkan oleh GO-JEK dan saingannya, Grab.

Duopoli semacam ini sering kali menghasilkan harga yang lebih rendah bagi konsumen, karena kedua pesaing bersaing untuk mendapatkan pelanggan. Tetapi situasi ini bisa kurang menguntungkan bagi pekerja. Daya tawar mereka terkikis karena jika mereka tidak bahagia dengan situasi kerja itu, mereka tak punya pilihan lain.

Sebuah artikel opini yang tertulis di The Conversation pada tahun 2017 mengatakan bahwa para pengendara GO-JEK dan Grab terkadang merasa dieksploitasi oleh perusahaan masing-masing. Mereka dipaksa bekerja berjam-jam berkat algoritme yang tak acuh dan ulasan pelanggan yang berubah-ubah.

Untuk mendapatkan pemahaman yang akurat, pada November dan December 2018 saya mewawancarai sepuluh pengendara GO-FOOD di Jakarta dan Yogyakarta. Meskipun mereka menerima upah yang relatif kecil (sekitar Rp1.400), sebagian besar pendapatan mereka berasal dari pencapaian target kinerja dan bonus.

Bonus para pengemudi diberikan lewat sistem poin. Pengemudi mendapatkan poin dengan menyelesaikan pesanan dan membuat pelanggan mengisi ulang akun GO-PAY mereka. Mereka mendapat lebih banyak poin saat lalu lintas sangat padat.

Bonus yang diberikan memang berbeda di tiap kota, tetapi bisa lebih dari Rp100.000 per hari jika seorang pengemudi mendapat jumlah poin yang cukup.

Sistem ini disusun sedemikian rupa, memberikan insentif kepada pengemudi untuk menyelesaikan jumlah pesanan maksimal, membuat orang mengisi ulang akun GO-PAY mereka, dan menerima lebih banyak pesanan selama jam sibuk. Ini semua menjadi prioritas GO-JEK dalam model bisnisnya.

Pengemudi yang saya wawancarai di Jakarta mengklaim mendapatkan penghasilan antara Rp5-7 juta per bulan jika bekerja 12 jam atau lebih per hari. Itu jauh lebih besar daripada upah minimum Jakarta (Rp3,6 juta) pada tahun 2018.

Di Yogyakarta, pengendara memperoleh antara Rp3-4 juta per bulan. Salah satu pengemudi bahkan mengklaim mendapatkan sekitar Rp6,5 juta dengan menerima setiap pesanan yang masuk. Penghasilan ini juga jauh lebih tinggi daripada upah minimum Yogyakarta tahun 2018 (Rp1,8 juta).

Data yang saya kumpulkan sejalan dengan survei di sembilan kota yang digelar oleh Institut Demografi Universitas Indonesia pada tahun 2017. Kota-kota besar yang menjadi objek survei tersebut antara lain Jakarta, Medan, Bali, dan Surabaya.

Dengan valuasi jauh di atas Rp14 triliun, mampukah GO-JEK berbagi kesejahteraan dengan para pengemudinya? Kemungkinannya besar.

Tetapi ada bukti kecil yang menunjukkan—setidaknya dalam hal remunerasi keuangan—bahwa perusahaan tersebut menyalahgunakan dominasi pasarnya untuk mengurangi kompensasi bagi pengemudi. Faktanya, para pengemudi mendapatkan penghasilan jauh lebih banyak daripada upah karyawan baru atau upah minimal pekerjaan-pekerjaan bidang jasa di tempat lain.

Dampaknya pada Asia Tenggara

Ini menggambarkan ekosistem digital yang dinamis di Indonesia, yang berkembang pesat seiring meningkatnya PDB (Pendapatan Domestik Bruto) per kapita.

Dengan banyaknya orang begitu loyal menggunakan layanan dari startup teknologi lokal, ditambah para pengemudi diuntungkan dengan peningkatan pendapatan, pangsa pasar e-commerce Indonesia bergerak meningkat menjadi bernilai Rp1,4 kuadriliun dalam beberapa tahun ke depan.

Ini membawa saya ke pertanyaan awal: apakah GO-JEK benar-benar mengubah dunia?

GO-JEK menghabiskan sebagian besar tahun 2017 dan awal 2018 untuk mendapatkan modal senilai US$1,5 miliar (sekitar Rp20 triliun) dari investor kaya seperti Google dan Tencent. Mereka menggunakan uang tunai untuk meluncurkan layanan transportasi dan pengiriman makanan di Singapura, Thailand, dan Vietnam—pertama kali mereka meluaskan pasar di luar negeri asal.

Jika GO-JEK benar-benar mengubah dunia, sekaranglah saatnya, karena GO-JEK sudah meluas ke kota-kota besar di Asia Tenggara.

Sudah ada tanda-tanda bahwa pertumbuhan pesat perusahaan yang dinikmati di Indonesia mungkin agak sulit diraih di luar negeri. Pertama, Filipina yang menjadi pasar ekspansi keempat mereka menolak memberikan izin beroperasi karena masalah kepemilikan.

Salah satu keunggulan GO-JEK sebagai perusahaan lokal di Indonesia adalah mereka sangat memahami dan mampu mencari celah pada tatanan regulasi rumit di Indonesia. Misalnya, GO-JEK dapat mengamankan lisensi uang elektronik sebelum saingannya Grab. Lisensi semacam itu langka dan sulit diperoleh karena Bank Indonesia hanya memberikannya pada 33 perusahaan.

Sementara GO-JEK unggul dalam melakukan ekspansi, dari jasa transportasi dan pengantaran makanan meluas ke layanan finansial, tidak ada jaminan hal itu akan berhasil mengarungi rintangan peraturan di negara-negara lain.

Selain itu, GO-JEK berevolusi untuk melayani kebutuhan pasar yang tidak terpenuhi di negara-negara berkembang, seperti Indonesia yang memiliki insfrastuktur publik buruk dan perluasan kota yang tidak dirancang cermat. Perusahaan itu pada dasarnya menciptakan kebutuhan.

Kebijakan publik gagal mengatasi masalah ini, sehingga startup teknologi inovatif mengintervensi dan mengembangkan solusi. Solusi ini ternyata berhasil dan memiliki potensi pasar yang tidak main-main.

Tetapi apakah itu akan berhasil di Singapura, misalnya, di mana semua tarif lebih tinggi dan transportasi publik lebih efisien? Itu mungkin akan menjadi pasar yang lebih sulit ditembus.

Tempat-tempat di mana GO-JEK kemungkinan besar akan mengulang keberhasilannya di pasar dalam negeri dan memberikan manfaat nyata dalam kualitas hidup konsumen adalah lokasi yang kondisinya paling mirip dengan Jakarta, Medan, dan Bali.

Pasar yang ideal adalah yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang kuat, didukung konsumsi domestik, dan memiliki tata kota yang buruk sehingga penyebaran kotanya padat, sering terjadi kemacetan lalu lintas, dan tidak ada banyak pilihan transportasi umum.

Deskripsi ini sangat cocok dengan tempat-tempat seperti Ho Chi Minh City, Bangkok, dan Manila. Dan jika bisa mengatasi masalah regulasi, pada akhirnya GO-JEK mungkin menjadi layanan yang dapat diandalkan atau bahkan sangat diperlukan di tempat-tempat itu.

Tetapi di kota-kota Asia Tenggara lain dengan peraturan tata kota, sistem transportasi umum, dan akses ke produk keuangan yang lebih baik, mendominasi pasar jelas lebih sulit.

Momen yang tepat

Sebagai mesin untuk meningkatkan permintaan domestik, GO-JEK dan aplikasi lain yang berinteraksi dengan pelanggan tiba pada momen yang tepat di kawasan ini. Dani Rodrik, seorang professor dan ekonom, baru-baru ini mencatat sebuah fenomena yang ia sebut sebagai “premature deindustrialization.

Pada dasarnya, negara-negara yang bergantung pada manufaktur untuk kebutuhan ekspor demi mendorong pertumbuhan ekonomi tengah mengalami penurunan hasil, terutama dibandingkan dengan kisah sukses besar yang terlihat beberapa dekade lalu di tempat-tempat seperti Singapura, Taiwan, dan Korea Selatan.

Manufaktur tidak lagi dianggap sebagai tongkat ajaib untuk pembangunan ekonomi, dan negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah akan semakin perlu mencari pertumbuhan di tempat lain. Konsumsi domestik adalah salah satu mesin potensial. Karena itulah pasar e-commerce yang berkembang pesat di Asia dan India menjadi menarik dan patut diamati di tahun-tahun mendatang.

Jika ekspor dan manufaktur tidak bisa diandalkan lagi untuk menumbuhkan PDB, pasar domestik yang sedang berkembang untuk transportasi, layanan pengiriman, dan keuangan digital mungkin bisa mengambil alih. Perusahaan-perusahaan seperti GO-JEK akan sangat berperan penting dalam mendorong pertumbuhan semacam itu.

Dengan semua kondisi itu, GO-JEK mungkin saja akhirnya mengubah dunia—atau minimal mengembangkan sebagian dunia  di mana aplikasi dapat berfungsi sebagai mekanisme untuk meningkatkan konsumsi dan memperluas layanan keuangan kepada lebih banyak orang.

GO-JEK mungkin telah diciptakan untuk mempermudah kita naik kendaraan atau memesan nasi goreng, tetapi ini mungkin menjadi hal penting di ekosistem digital kawasan yang dinamis dan berkembang pesat, yang akan sangat penting bagi pertumbuhan masa depan Asia Tenggara.

(terkini/tow)