Dampak Aksi 22 Mei, Pendapatan Driver Ojek Online Menurun hingga Dua Kali Lipat

14

Tak hanya menyebabkan beberapa sektor tutup, aksi unjuk rasa 22 Mei juga menyebabkan sarana transportasi terkena imbasnya.

KRL dan Transjakarta tak bisa beroperasi normal, serta ojek online mengalami penurunan pendapatan.

Hal ini diakui oleh salah seorang pengemudi ojek online, Suratno.

Ia mengatakan, pendapatannya hari ini bisa menurun 2 kali lipat dari biasanya.

“Pendapatannya ada penurunan. Biasanya sehari bisa narik 20 kali, kalau hari ini 10 kali karena ada kerusuhan dan mungkin banyak yang enggak masuk kantor,” ucap Suratno kepada Kompas.com, Rabu (22/5/2019).

Sebenarnya, imbuh Suratno, banyak orang yang memesan ojek online ke atau dari titik-titik rawan.

Namun, dia memilih untuk tidak mengantar penumpangnya dan memilih menghindari titik-titik rawan karena takut terkena dampak aksi massa.

“Daerah Tanah Abang, Petamburan, Slipi itu saya hindari. Kalau ada yang order dari sana atau mau ke sana saya cancel. Saya hari ini hanya di daerah Cawang, Pasar Minggu, Mt. Haryono dan sekitarnya,” jelas Suratno.

Akibatnya, performa Suratno dalam aplikasi ojek online miliknya juga menurun. Dia pun mengatakan akan melihat situasi dan kondisi terlebih dahulu esok hari sebelum menerima pesanan.

“Performa bintang saya turun karena cancel terus. Besok enggak tahu masih begini atau enggak. Saya mau lihat dulu sudah mendingan atau belum kisruhnya. Bahkan Stasiun Tanah Abang saja ditutup, akhirnya orang turun di Stasiun Karet,” kata Suratno.

Sejak kemarin, Selasa (21/5/2019) massa telah mendatangi gedung Bawaslu untuk melakukan aksi demo. Bahkan pada dini hari, Rabu (22/5/2019), kerumunan massa juga berada di daerah Jatibaru, Tanah Abang. Kisruh pun masih terus berlangsung hingga saat ini.

(tribunnews/tow)