Curhat Sopir Angkot Kota Bandung Soal Penerapan “Grab to Work”

11

Rencana pemerintah menerapkan sistem carpooling untuk mengangkut para aparatur negeri sipil yang bertugas di lingkungan Pemerintah Kota Bandung mendapatkan respon dari sopir angkot di Kota Kembang. Sikap pasrah terhadap rencana pemerintah menjadi salah satu yang mengemuka dari benak sopir.

Kepasrahan terhadap rencana pemerintah ini ditunjukkan oleh salah seorang sopir angkot Ciroyom-Cikudapateuh, Agus Supriatna (51), ia mengaku tak berharap banyak dari rencana kebijakan yang diambil pemerintah.

“Yah enggak jadi masalah biarin aja, da sudah keadaannya begini, mau gimana. Namanya juga wong cilik, Neng. Susah,” katanya saat berbincang dengan ayobandung, Senin (11/3/2019) malam.

Sikap pasrah yang ditunjukkan Agus tak muncul secara tiba-tiba. Ia menilai rencana pemerintah itu sebagai konsekuensi dari arus perubahan zaman yang terus bergerak. Tak hanya itu, penerapan aturan serupa beberapa tahun lalu juga pada akhirnya tidak menjadi kenyataan.

Sebelumnya, saat Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil masih menjabat sebagai Walikota, dirinya sempat menghimbau warga Kota Bandung untuk berkendara mengenakan angkot tiap Jumat.

“Tapi ya akhirnya enggak diterapkan juga. Jadi sepertinya aturan yang ini juga sama saja,” ungkapnya.

Agus menilai jadi atau tidaknya pemberlakuan sistem carpooling yang digagas pemerintah tak akan berdampak signifikan. Pasalnya, pendapatan para sopir angkot ini sudah mengalami penyusutan sejak masuknya jasa angkutan berbasis aplikasi daring tiga tahun belakangan.

Ditanya soal sikap pribadinya terhadap rencana pemerintah, Agus mengaku tak bisa menentukan. “Bilang gak setuju pengaruhnya apa, bilang setuju juga apa. Tidak ada pengaruhnya,” ucapnya.

Dia mengatakan, aturan carpooling yang hari ini, Selasa (12/3/2019) telah memasuki masa ujiboba, belum banyak diketahui oleh rekan seprofesinya.

“Belum tahu, belum banyak jadi obrolan juga di antara teman-teman,” pungkasnya.

(ayobandung.com/tow)