Bikin Resah, Banyak Orderan Fiktif di Banjarmasin Untuk Driver Ojol, Begini Cara Antisipasinya

10
Ramai terjadi driver ojek online (ojol) di Banjarmasin dan sekitarnya sering mendapat orderan fiktif dari costumer misterius yang membuat resah.

Ramai terjadi driver ojek online (ojol) di Banjarmasin dan sekitarnya sering mendapat orderan fiktif dari costumer misterius yang membuat resah.

Seperti yang dialami Hendra (35), seorang driver ojol yang tertipu dari orderan yang masuk ke aplikasinya.

Jenis layanan fiktif yang didapatnya adalah pengantaran penumpang.

“Yang pertama ada orderan goride masuk menggunakan nomor telepon luar negeri, lokasinya di kawasan Malkon Temon. Setelah didatangi ke lokasi ternyata tidak ditemukan alamat tersebut, saya sudah tanyakan juga ke orang-orang sekitar alamat tetap tidak ada,” ceritanya kepada Banjarmasinpost.co.id, Selasa (22/10/2019).

Kemudian orderan fiktif lainnya, berada di kawasan Benua Anyar.

Dibeberkannya, pelaku menyamar menjadi staf aplikator dengan modus ingin mengambil saldo gopay.

Pelaku pun mengancam akan menghancurkan akun ojol miliknya disertai makian sumpah serapah.

Setelah adanya kejadian tersebut, Hendra langsung membatalkan orderan dengan pilihan alasan yang tertera adalah booking palsu.

Diakuinya, pembatalan tersebut memang berpengaruh pada nilai performa yang menurun.

Namun tidak besar penurunannya karena sesuai dengan alasan pembatalan yang bersifat fiktif.

Yang menerima orderan fiktif tersebut masih banyak lagi selain dia, beberapa waktu lalu driver lain yang menerima orderan serupa langsung melapor kepada pihak aplikator dan akun fiktif tersebut dinonaktifkan.

“Untuk antisipasi, biasanya lebih dipastikan lagi ke penumpang atau yang order melalui telepon atau chat. Orderan yang benar biasanya merespon cepat, kalau susah dihubungi apalagi akunnya belum berbintang maka patut waspada,” ujarnya.

Hal yang sama dialami Eriana (32) yang pernah menerima orderan beli dan antar makanan oleh costumer fiktif.

Pada saat itu, dikatakannya, dalam orderan tertera lima bungkus nasi padang.

Setelah menghubungi si pengguna untuk memastikan alamat, namun tidak tidak ada respon.

“Jumlah harga orderan Rp 100.000, yang order ada saldo gopay sekitar Rp 40.000. Jadi ada sisa yang harus dibayarnya saat itu Rp 60.000. Pas dihubungi tidak merespon dan akhirnya saya yang tanggung sisa pembayarannya. Dua bungkus makanan yang telah dibayar pemesan saya kasihkan ke tukang bangunan yang dekat rumah saya, sisanya saya bawa pulang,” papar dia.

Menyikapi hal ini, Ketua Forum Driver Online (FDO) Kalimantan Selatan (Kalsel) Pandu Setiawan mengatakan, order fiktif tersebut sudah lama terjadi di kalangan driver.

“Dari pengalaman para driver yang pernah mengalami, ada indikasi lebih kepada persaingan antar driver. Sebab pada saat pembatalan akan berimbas pada nilai performa yang menurun,” terangnya.

Adanya penurunan performa bakal turut berimbas pada jumlah bonus yang didapat driver menjadi lebih kecil.

“Karena order fiktif itu terkaitnya dengan sistem yang mana itu dari sisi aplikator yang bisa menghandle. Saran kami kepada kawan-kawan untuk mewaspadai daerah-daerah yang sering kali ada orderan fiktif,” pungkasnya.

Sementara itu, beberapa driver aplikator ojol lokal, Amang Ojek juga pernah mengalami hal serupa.

Pihak aplikator pun melakukan langkah preventif agar menekan tindakan fiktif tersebut.

“Antisipasi dari Amang Ojek lebih memaksimalkan verifikasi user saja melalui telp atau fitur chat di aplikasi driver,” ujar Founder Amang Ojek, M Nicko Farizki.

(motorplus/transonlinewatch)