Bekraf dan Gojek Kembangkan Produk Kuliner di Dunia Digital

19
Ilustrasi. Sebanyak 22 pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) kuliner wilayah Bogor dan Jabodetabek ikut meramaikan Go-Food Festival yang hadir di pusat perbelanjaan BTM Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat. Antara/Istimewa

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dengan perusahaan teknologi Gojek mengembangkan pasar produk kuliner dalam dunia digital. Pengembangan pasar produk kuliner dilakukan melalui gelaran program Gerakan Online Bekraf dan Gojek (Gerobak Maya).

Direktur Pengembangan Pasar Dalam Negeri Bekraf, Yuana Rochmawati, mengatakan program ini memfasilitasi 200 pelaku kreatif melalui penguatan kompetensi pemasaran dalam platform digital fitur Go-Food.

Penguatan kompetensi tersebut berupa pemberian materi seperti digital marketing, photography product, discussion forum, Go Food Success Story Sharing, dan edukasi pendaftaran merchant Go Food.

“Bekraf memfasilitasi 200 pelaku kreatif dari subsektor kuliner guna meningkatkan skala bisnisnya,” kata Yuana.

Berdasarkan data Bekraf 2016, sejauh ini subsektor kuliner menyumbang 41,43% atau sekitar Rp382 triliun dari total Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif yang sebesar 923 triliun.

Dari kontribusi tersebut, Yuana mengatakan subsektor ini mampu menyumbang tenaga kerja lebih dari 7,9 juta tenaga kerja. Untuk itu, ia berharap pasar kuliner ke depannya bisa lebih bisa berkembang.

“Kali ini Bekraf bekerja sama dnegan Gojek melalui lini bisnis Go Food, dengan harapan bisa memperluas pangsa pasar dan distribusi bisnis kuliner para pelaku kreatif kulinernya melalui pemanfaatan teknologi digital,” pungkas Yuana.

Menurut pengamat komunikasi digital marketing, Chrisma Wibowo, keberadaan pasar kuliner dalam ranah digital sudah sangat berkembang. Namun jika dibanding dengan negara lain, Indonesia masih tertinggal.

“Berkembang, jauh banget berkembang,” Kata Chrisma, lalu ia lanjutkan, “Cuma kalau dibanding dunia luar, kita udah ketinggalan 20 tahun.”

Kendati demikian, ia tetap menilai positif pasar online ini. Hal ini diamatinya dari berbagai event yang dia kunjungi sebagai pengamat dari kota ke kota.

Dengan positifnya pasar kuliner ini, dampaknya akan langsung kepada para pelaku usaha kreatif. Yakni peningkatan omset usaha kuliner.

Namun, ia juga harus mengakui bahwa masih ada masalah dalam dunia pasar digital. Menurutnya, masih ada gap pengetahuan dalam pemanfaatan dunia digital tersebut. Para pelaku usaha, terutama yang berumur 55 tahun ke atas, tidak memahami dengan keberadaan teknologi digital. Sehingga, mereka agak bingung dengan langkah apa yang dilakukan ke depannya.

“Mereka kan belum terbiasa dengan teknologi,” imbuhnya kepada Validnews, Selasa (10/9).

Selain itu, adanya biaya yang harus dikeluarkan konsumen, yakni berupa ongkos kirim atau ongkir. Chrisma menilai ongkir memiliki pengaruh yang besar dalam pengembangan perdagangan online, termasuk penjualan makanan.

Semakin murah ongkir, menurutnya semakin bagus untuk perdagangan online. Seperti yang Chrisma contohkan, pernah ada suatu perusahaan e-commerce pendatang baru yang tidak ia sebutkan namanya memperkuat lini bisnisnya hanya dengan menggratiskan ongkir dalam setiap pembelian.

Dalam sekejap, kata dia, perusahaan itu pun langsung menjadi perusahaan e-commerce yang diperhitungkan di negara ini.

Untuk itu, Chrisma memberikan beberapa saran. Terkait gap teknologi, ia menyarankan perlu adanya bantuan dari para akademisi dan mahasiswa untuk membimbing para pelaku usaha. Sehingga, transfer of knowledge berlangsung dan para pelaku usaha yang tadinya tak paham menjadi akrab dengan perkembangan teknologi.

Sedangkan terkait ongkir, ia menyarankan para pelaku usaha untuk terus meningkatkan brand usahanya dalam platform online, sehingga menjadi pilihan konsumen.

“Kalau mereka mau maju, mereka harus membungkus usahanya, gimana packaging-nya, biar terjamah oleh semua,” pungkasnya.

(validnews/Agil Kurniadi/transonlinewatch)