Begini Alasan Sofyan Pilih Go-Send Ketimbang Antar Penumpang

16

Berbagai fitur jasa yang ditawarkan oleh aplikasi ojek online membuat ojek bebas memilih layanan apa yang ingin ia gunakan.

Alih-alih fokus pada layanan antar penumpang menggunakan motor atau mobil, beberapa ojek justru memilih aktif pada fitur lainnya yakni antar makanan dan barang.

Padahal, di musim hujan seperti ini, banyak konsumen membutuhkan layanan antar motor dan mobil.

“Saya dari awal, apalagi sekarang musim hujan seperti ini, lebih suka menerima pesanan Go-Send (antar barang). Kalau Go-Food (antar makanan) hujan-hujan begini, sampai di customer tidak hangat, itu biasanya dikomplain. Go-Send kan enak, kalau hujan tinggal diberi plastik saja,” jelas Sofyan Ramdhana, pengendara ojek online Go-Jek, Minggu (10/2/2019).

Selain itu, Go-Food dirasa lebih tidak praktis baginya, karena tak jarang ada biaya lebih yang harus dikeluarkan pengendara.

Misalnya, jika makanan yang dipesan berada di dalam mal, apalagi di lantai atas, pengendara harus memarkir kendaraan terlebih dahulu, dan itu memakan biaya setidaknya Rp 5.000 yang tidak ditanggung konsumen.

“Biasanya orang tidak mau membayar tambahan parkir, karena mikirnya ini bagian dari pelayanan,” imbuhnya.

Pria yang tinggal di daerah Waru, Sidoarjo ini juga lebih suka menerima pesanan Go-Send dibanding Go-Ride (antar motor), karena tidak perlu memikirkan keselamatan penumpang dan juga layanan lebih selama perjalanan.

Apalagi saat hujan, pengendara butuh menyiapkan jas hujan lebih.

“Kan yang dibawa barang, jadi resiko lebih kecil,” katanya.

Kemudian, jumlah poin dan uang yang ia terima lebih banyak dibanding Go-Ride.

Poin Go-Food dan Go-Send adalah dua, sedangkan Go-Ride hanya satu.

“Uangnya juga lebih banyak, sehari saya bisa menghasilkan Rp 50.000-Rp 100.000. Di sini (Royal Plaza) banyak pesanan Go-Send. Sehari bisa lima orang, bahkan lebih,” terangnya.

Sedangkan Agus Heriyanto, pengendara Go-Jek asli Kediri ini mengaku menerima segala pesanan, karena jumlah penumpang makin sedikit tiap harinya.

“Saya ambil semua, karena orderan sudah tidak seperti dulu. Saya ini saja dari pagi baru dapat satu penumpang,” keluhnya.

Namun, memilih semua jenis layanan bukan tanpa resiko menurutnya.

Resiko layanan yang paling besar, katanya, terjadi pada ojek yang mangkal di daerah Pakuwon Mall, utamanya untuk Go-Food, karena daerah tersebut tinggi permintaan antar makanan.

Para pengendara biasanya memarkir kendaraan di luar mal karena parkir motor hanya satu di Pakuwon Trade Center, sehingga resiko kehilangan helm maupun motor tinggi.

“Go-Food memang poinnya lebih tinggi, tapi masalahnya permintaannya, ambil makanannya lama, dan lain-lain. Kalau Go-Ride satu poin saja tapi cepat. Kadang akhirnya driver lebih memilih Go-Food,” ujarnya.

(tribunnews/tow)