Bantah Grab, GARDA Sebut Tarif Go-Jek Masih Lebih Baik

10

TARIF per kilometer yang diterima mitra pengemudi Grab Bike ternyata lebih rendah daripada Go-Jek.

Berdasarkan komparasi oleh Gerakan Aksi Roda Dua (GARDA) di lapangan, tarif Grab Bike yang diterima pengemudi sebesar Rp 1.200 per kilometer untuk perjalanan jarak dekat, sedangkan tarif Go-Jek Rp 1.600.

“Memang tarif Go-Jek untuk mitra pengemudi masih lebih tinggi ketimbang tarif Grab sejak dulu. Bahkan, sampai akhirnya Go-Jek ikut menurunkan tarif jadi Rp 1.600 per kilometer (tetap masih lebih tinggi),” kata Presidium GARDA Igun Wicaksana kepada media, Kamis (6/12/2018).

Igun menilai penyesuaian tarif untuk mitra pengemudi yang dilakukan Go-Jek, jelas dipicu oleh tarif Grab yang sudah lebih dahulu terlampau rendah.

“Karena Go-Jek kalah harga dari Grab, pasti mereka akan ikut menurunkan tarif. Akhirnya benar terjadi. Kami menyayangkan adanya perang tarif ini,” ujarnya.

Penetapan tarif bagi pengemudi yang terlampau rendah, lanjut Igun, adalah bukti Grab tidak memperhatikan aspek kemanusiaan mitranya. Tarif yang sangat rendah membuat pengemudi dipaksa bekerja lebih keras, sehingga akhirnya berpengaruh pada sisi keamanan dan pelayanan.

Akibat dari terlampau keras bekerja demi mengejar insentif yang layak, pengemudi bisa kelelahan dan memicu kecelakaan di jalan.

“Ini yang tidak pernah dipikirkan oleh Grab, bahwa tarif sangat murah itu justru berpengaruh pada keamanan,” ucap Igun.

Persoalan tarif yang terlalu rendah ini pun memicu fenomena perpindahan pengemudi Grab ke Go-Jek. Mereka memutuskan migrasi karena merasa tidak ada perhatian dari manajemen Grab terhadap nasib mitranya. Faktor ekonomi dan jaminan kesejahteraan memang menjadi alasan utama adanya migrasi tersebut.

“Itu tindakan yang sangat rasional dari para pengemudi. Ketika merasa tidak ada jaminan kesejahteraan, tentu mereka melihat opsi lain,” ulas Igun.

Sebelumnya, Managing Director Grab Indonesia Rizki Kramadibrata mengkritik kebijakan Go-Jek yang melakukan penyesuaian tarif.

Dia mengklaim bahwa Grab telah mengupayakan kesejahteraan tak hanya dengan skema tarif, tapi dengan memangkas pengeluaran mitranya. Namun, ternyata tarif yang diterima pengemudi Grab justru lebih rendah daripada Go-Jek, dan Rizki menyatakan belum berencana menaikkan lagi tarif tersebut.

“Tarif adalah salah satu komponen kesejahteraan, dan kami menaikkan komponen tarif dengan sangat hati-hati,” jelas Rizki.

Managing Director Indonesia Ridzki Kramadibrata sejak September 2019  menolak usulan kenaikan tarif. Ridzki menegaskan kenaikan tarif tidak sama dengan kenaikan pendapatan.

“Justru menaikkan tarif sembarangan bisa menurunkan pendapatan,” ujar Ridzki dalam jumpa pers di kantor Grab di Lippo Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (6/4).

Hal ini kemudian menyebabkan unjuk rasa pengemudi ojek online pada Selasa, 27 Maret lalu menuntut perusahaan aplikator menaikkan tarif per kilometer yang tadinya bervariasi sekitar Rp1.500 – Rp2.500 menjadi Rp3.500 – Rp4.000.

Menanggapi komentar Grab, VP Corporate Affairs Go-Jek Michael Reza Say menyatakan bahwa penyesuaian tarif dilakukan untuk mengikuti kondisi pasar, guna menjaga daya saing mitra pengemudi agar tetap menjadi pilihan konsumen.

“Dan tarif yang dibayarkan Go-Jek ke mitra driver saat ini tetap masih yang tertinggi di pasaran,” cetus Michael.

(tribunnews/tow)