Bangkit Bersama Go-Jek, Begini Perjalanan Muh Suyanto

14

Sebelum bergabung dengan Gojek, Muh Suyanto berprofesi sebagai wiraswasta di bidang properti dan kontraktor. Namun, usahanya mengalami kerugian hingga miliaran rupiah. Lelaki paruh baya yang biasa dipanggil Yanto Pupay ini pun sempat menganggur 1,5 tahun.

Secercah harapan muncul saat dia bergabung dengan Gojek pada Maret 2017 lalu. Sedikit demi sedikit perekonomian keluarganya membaik. Dibantu sang istri yang berjualan makanan dan masuk Go-Food, dia bisa menghidupi keluarga dan ketiga anaknya.

Anak pertama sekarang sudah semester dua di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Semarang. Sedangkan anak kedua duduk di bangku kelas 9 SMP, sedangkan putra ketiganya duduk di bangku kelas 3 SD. Penghasilannya sebagai Gojek bisa memenuhi kebutuhan sekolah tiga anaknya.

”Di usia yang sudah 50 tahun lebih, saya bersyukur masih bisa bekerja. Saya sangat bersyukur bisa kerja di Gojek. Ini sudah sangat membantu kebutuhan keluarga,” ujar bapak yang akrab disapa Yanto Pupay  ini.

Dia juga aktif di komunitas Gojek dengan menjadi Ketua Komunitas Gojek Sedulur Teratai (Goseta). Komunitas ini bergerak untuk mengayomi anggotanya yang sekitar 30 orang. Koperasi yang dibentuk juga berjalan baik. Koprasi ini membantu anggotanya saat membutuhkan uang untuk membeli ban, atau kebutuhan lain.

”Filosofi bunga teratai, yakni bisa hidup di lingkungan mana pun,” ungkapnya. Selain itu, dia juga aktif di Komunitas Gojek Semarang Peduli Sesama (Go-split), sebagai bendahara. Ini merupakan gerakan antar-komunitas yang bergerak di bidang sosial, membantu korban bencana.

Di tengah kesibukannya, bekerja, Yanto Pupay, tetap tidak melupakan kewajibannya beribadah. Beberapa kali dia menjadi iman shalat tawarih dan mengisi kultum di Mushala Darussalam. Mushala itu di depan rumahnya yang berada di Jalan Kepodang Selatan 1A No 12, Pudakpayug, Banyumnik.  ”Jadi sebelum magrib, tetap pulang ke rumah. Siap sedia di mushala hingga subuh,” tuturnya.

(suaramerdeka/tow)