Angkutan Online dan Konvensional di Balikpapan Kembali Bersitegang

124

Ratusan driver online dan sopir angkot konvensional sempat bersitegang saat berada di Jl Wiluyo Puspoyudo dekat rumah Wakil Walikota Balikpapan, Rabu (1/11).

Dari informasi yang dihimpun media di lapangan, bentrokan pun nyaris terjadi diantara mereka. Bermula saat beberapa iringan driver online yang memakai atribut melintas di lokasi yang dijadikan tempat ngetem sopir angkot konvensional.

Baca:

Kontan hal tersebut memancing reaksi sopir angkot, beberapa driver online dihentikan secara paksa.

“Waktu itu saya lolos, tapi teman di belakang distop. Saya langsung komunikasi dengan rekan yang lain di sekitar,” kata seorang driver yang enggan namanya disebut.

Tak lama kemudian, driver Go-Jek online berdatangan satu demi satu. Hingga akhirnya massa driver online terkumpul banyak.

Situasi memanas antar kedua belah pihak. Beruntung aparat kepolisian cepat datang dan melakukan pengamanan.

“Sempat tegang, anak-anak juga terpancing. Tapi polisi langsung datang,” kata driver yang setahun bekerja sebagai driver Go-Jek.

“Kita tak melakukan penyerangan. Kita gak bawa apa-apa, cuma berusaha bertahan diri. Kami pakai atribut itu instruksi manajemen, kalau tidak dapat suspend,” lanjutnya.

Massa driver online menarik diri, lalu berkumpul di Taman Wiluyo Puspoyudo sementara para sopir angkot bertahan persis di jalan samping kantor Walikota Balikpapan.

Di jalan tersebut sempat terbagi menjadi 2 kubu, antara angkutan online dan konvensional.

Sementara ketua angkutan umum nomor 3, Hendra di lokasi kejadian mengatakan menerima informasi dari anggotanya yang menyatakan telah diserang driver online.

“Ini spontanitas sopir angkot (berkumpul), adanya penyerangan pihak gojek terhadap sopir angkot,” katanya.

Ia kecewa dengan sikap driver online yang seolah-olah provokatif memancing reaksi angkutan konvensional. Padahal saat itu mereka lagi ngetem dengan damai di lokasi tersebut.

“Kenapa Go-Jek memancing keributan, makanya anak-anak dengan spontanitas tak mau jalan (narik). Intinya, kan, Go-Jek tak bisa di jalan lagi,” katanya.

Beruntung tak sempat terjadi adu fisik, lantaran polisi cepat datang menengahi.

“Tidak terjadi pemukulan, cuma mereka datang seakan memancing pakai seragam. Yang datang awalnya 1 orang, kemudian datang beberapa orang datang lagi. Lebih dari belasan, mereka langsung ke dalam berkumpul di dekat rumah Wawali,” ujarnya.

Dari sana, para driver online tersebut bergerak menuju kantor manajemen di Jalan MT Haryono Balikpapan.
Dari pengamatan Tribunkaltim, sekitar pukul 10.30, para awak gojek berkumpul di pelataran kantor Gojek Balikpapan.

Kontan, sejumlah aparat polisi berjaga. Sebuah mobil patroli dari Polsekta Balikpapan Selatan langsung mengamankan lokasi.

Seorang driver ojek wanita, Maya yang bersua dengan media, menyampaikan alasan berkumpul secara berkelompok para pengendara ojek online sebenarnya untuk melakukan pendekatan ke para pengendara angkot plat kuning (konvensional).

“Kami mau aksi damai dekati ke sopir angkot. Mau bersalam-salaman. Menegur sapa jalin persahabatan,” ujarnya.

Namun seiring berjalan, aksi ini dinyatakan gagal lantaran masih ada beberapa sopir angkot yang belum mau menerima kehadiran ojek online.

“Kami ajak mengobrol ada yang salah paham. Sebaliknya terjadi perdebatan alot. Ribut. Akhirnya mundur saja,” kata Maya.

Kembali terjadinya ketegangan antara driver angkutan online dan konvensional di Balikpapan, membuat Satgas Go-Jek memutuskan tak mengaktifkan aplikasi mereka.

Hal itu dikemukan salah satu dewan pembina satgas Go-Jek kepada Tribunkaltim.co, Rabu (1/11).

“Kami (Satgas) sepakat menon-aktifkan aplikasi hari ini, untuk mengawasi kondisi di lapangan. Apabila driver mengalami intimidasi dari rekan-rekan konvensional,” kata salah satu anggota Dewan Pembina Satgas Gojek yang enggan namanya dipublikasikan ini untuk alasan keamanan.

Untuk diketahui, satgas tersebut terbentuk baru sekitar 2 pekan. Keberadaan Satgas tersebut di luar dari struktur manajemen aplikasi Go-Jek.

“Terbentuk dari kesadaran para driver, lantaran menyangkut keamanan mereka beroperasi.

Ada ketua, sekretaris dan bendaharanya. Juga beberapa dewan pembina, yang merupakan driver senior,” urainya.

Satgas tersebut beranggotakan lebih dari 50 driver, sementara jajaran dewan pembina sekitar 30 orang. Dari hasil musyawarah, mereka sepakat mematikan aplikasi hingga beberapa hari ke depan untuk memantau keamanan driver Go-Jek.

“Dibilang rugi gak narik, ya rugi. Tapi kembali ke tujuan kita untuk mempersatukan driver online, dan sementara menjamin keamanan mereka yang beroperasi di jalan,” tuturnya.

Satgas dalam beberapa hari ke depan fokus memantau driver lainnya yang beroperasi, apabila ada terjadi intimidasi maka mereka bertanggungjawab mengamankan yang bersangkutan.

“Kami punya channel, seperti grup WA. Ada kejadian langsung dikabarkan, tujuannya bukan membalas tapi mengamankan, saya tekankan,” tegasnya.

Untuk diketahui, di Balikpapan saja driver online yang terdaftar mencapai angka 7.000. Namun tak semua aktif beroperasi, katanya yang melakoni profesi sebagai driver Go-Jek selama 2 tahun di Balikpapan.

“Untuk satgas di setiap wilayah oangkalan kami ambil maksimal 2 orang untuk masuk ke Satgas. Harapannya driver online semakin solid, bila ada masalah kita pasti turun,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolres Balikpapan AKBP Wiwin Fitra melalui Kabag Ops Kompol Supriyanto menyatakan tak ada isu penyerangan yang dilakukan oleh driver online, seperti yang beredar di tengah masyarakat.

“Tidak benar itu terjadi penyerangan, saya pas di lokasi. Kita sampaikan kepada masyarakat terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya,” kata Supriyanto.

Kendati demikian ia tak menampik bahwa terjadi pengumpulan massa driver go-jek dan angkot di Jalan Wiluyo Puspoyudo, Balikpapan pagi tadi.

“Bila ada isu pemukukan atau penganiayaan, itu gak benar. Itu sifatnya provokatif, membuat suasana tak kondusif. Mereka (go-jek) berkumpul mau rapat, karena dari manajemen memerintahkan mereka menggunakan atribut,” ujarnya.

Lanjut Supriyanto, ia menjelaskan bahwa saat ini ketentuan terkait driver online roda empat sudah ditetapkan pemerintah lewat Permenhub.

Hanya saja bagi driver online roda dua sesuai dengan keputusan Pemerintah, dikembalikan kepada Pemerintah Daerah setempat untuk membuat regulasinya.

“Tadi malam (Selasa 31/10) sudah dibicarakan bersama Forkominda, lagi dibuat draftnya, dibuat regulasi dalam bentuk Perda atau perwali untuk mengatur angkutan roda 2 yang digunakan untuk angkutan umum,” ungkapnya.

Pihak Kepolisian meminta agar kedua belah pihak sama-sama menahan diri, demi kondusivitas Balikpapan. “Kita ambil jalan tengah, Mereka (Go-Jek roda 2) boleh operasi dengan tidak menggunakan atribut, win-win solution, agar situasi aman, karena regulasi buat mereka masih digodok,” katanya.

(tribunnews/tow)