1.000 Wanita Arab Saudi Siap Ikuti Pelatihan Jadi Sopir Taksi Online

78

Sebuah aplikasi taksi online yang beroperasi di Timur Tengah merekrut hampir 1.000 wanita Arab Saudi. Lalu mereka akan mengikuti pelatihan terlebih dahulu sesuai prosedur perusahaan, sebelum menjalankan tugasnya sebagai pengemudi.

Seluruh pengemudi wanita tersebut dipekerjakan oleh Careem, yang merupakan layanan pemesanan mobil berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab.

Sesi pelatihan sudah diadakan di Riyadh, Jeddah dan al Kohbar, bagi wanita yang telah memiliki SIM.

Careem — yang beroperasi di 13 negara Muslim dan memiliki nilai investasi sekitar US$ 1 miliar — berharap bisa merekrut 100.000 staf wanita di Arab Saudi sebagai bentuk ekspansinya ke pasar.

“Kami sangat tak sabar menanti bulan Juni, tonggak sejarah besar bagi kerajaan ini akan terjadi. Kami sudah mulai melatih calon pengemudi perempuan dan kami harap bisa merekrut hingga 100.000 orang dalam kurun waktu satu tahun,” kata salah satu pendiri Careem, Magnus Olsson, sebagaimana dikutip dari The Independent, Kamis (15/2/2018).

“Kami memperkirakan pertumbuhan yang sangat kuat di Arab Saudi,” lanjutnya.

Baca: Kasian, Ribuan Sopir Taksi Online di Semarang Terancam Nganggur

Raja Arab Saudi, Salman Abdulaziz al-Saud, atas permintaan putranya, Mohammed bin Salman, telah mengeluarkan serangkaian keputusan kerajaan dalam beberapa bulan terakhir.

Keputusan Raja dirancang untuk meliberalisasi beberapa undang-undang konservatif yang telah berlaku lama di Arab Saudi.

Aturan terpenting yang diumumkan Sang Raja adalah mengizinkan perempuan untuk mengemudi kendaraan roda empat per tanggal 24 Juni 2017. Perizinan ini diharapkan bisa memperlebar akses perempuan dalam dunia kerja. Reformasi tersebut juga memberikan kebebasan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap kaum hawa.

Pada dasarnya, angkutan umum tidak disediakan di Arab Saudi, sehingga kerajaan tersebut memilih untuk menyediakan layanan pemesanan transportasi berbasis online, seperti Careem dan Uber, sebagai captive market.

Sedangkan captive market diartikan sebagai pemasaran situasi di mana pembeli tak punya pilihan, selain untuk membeli dari pemasok tunggal.

Tahun lalu, dilaporkan bahwa Kementerian Tenaga Kerja berencana untuk mensubsidi kedua aplikasi transportasi tersebut untuk mempekerjakan wanita Saudi, sebab tingkat pengangguran di Arab Saudi terbilang cukup tinggi.

Tahun lalu saja naik menjadi 12,8 persen. Dari sebagian besar pencari kerja, 80 persen-nya adalah wanita.

Sementara itu, lebih dari 70 persen pengguna Careem di Arab Saudi adalah wanita dan 80 persen pemesanan Uber dilakukan oleh wanita.

Reformasi Ekonomi, Perempuan Arab Saudi Kini Kerja di Starbucks

Tidak banyak perempuan di Arab Saudi yang memiliki aktivitas seperti Mahal Ghazwan dan kedua koleganya.

Perempuan berusia 30 tahun yang memiliki gelar master dalam manajemen keamanan makanan itu merupakan manajer Starbucks yang ada di Alshaya Company, Riyadh. Perusahaan tersebut mengoperasikan franchise merek Amerika Serikat di Timur Tengah.

“Kedua rekan timku memiliki gelar sarjana, tapi mereka suka tantangan dan mengambil kesempatan untuk bekerja di perusahaan multinasional yang ditawarkan Starbucks,” ujar Ghazwan, seperti dikutip dari CNN, Rabu 7 Februari 2018.

Mereka adalah satu dari beberapa perempuan Saudi yang berani mengambil “risiko” untuk bekerja di luar bidang pemerintahan dan memilih sektor swasta.

Selama bertahun-tahun, Undang-Undang Perburuhan di Arab Saudi mencegah laki-laki dan perempuan bekerja di satu lingkup ruang kerja. Namun, Ghazwan dan timnya unik, karena mereka melayani klien pria dan wanita.

“Akhir-akhir ini, ada penerimaan implisit dan tidak resmi soal bercampurnya laki-laki dan perempuan di lingkungan kerja,” ujar Badel Aljalajel, yang membuka kedai kopi 12 Cups di salah satu jalanan mewah di Riyadh.

Baca: Adian Napitupulu, Menhub Harus Patuhi Janji untuk Evaluasi PM 108

Toko tersebut dijalankan oleh lima laki-laki yang bekerja sebagai barista dan sejumlah warga negara asing. Aljalajel berencana membuka toko kedua, kali ini dikelola oleh barista perempuan.

Strategi Vision 2030 yang dibentuk oleh Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman memang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi perempuan di dunia kerja, yakni dari 22 persen menjadi 30 persen pada 2030.

“Saat ini terdapat 600.000 perempuan Saudi yang bekerja di sektor swatsa, 30.000 di antaranya bergabung pada September dan Oktober lalu,” ujar juru bicara Kementerian Tenaga Kerja dan Pengembangan Masyarakat, Khaled Abalkhail.

Pergeseran Tren Bekerja di Kalangan Muda Arab Saudi

Bukan hanya perempuan Saudi yang bergabung di sektor swasta. Banyak pria juga bergabung dalam sektor tersebut.

Dengan tingkat pengangguran mencapai 12,8 persen di Arab Saudi, Mohammed bin Salman pada 2016 meluncurkan serangkaian cara ambisius, termasuk menciptakan lapangan kerja swasta untuk ribuan masyarakat Saudi.

Hal tersebut bertujuan untuk menurunkan tingkat pengangguran menjadi 7 persen pada 2030.

Dalam upaya untuk mencegah perusahaan mempekerjakan ekspatriat, pada 2017 pemerintah memberlakukan pajak bulanan untuk setiap karyawanan non-Saudi. Saat ini perusahaan membayar ke pemerintah sebesar US$ 107 untuk per karyawan asing, di mana pungutan tersebut akan meningkat setiap tahunnya.

Meski makin banyak perempuan yang bekerja dalam sektor swasta, pemerintah mendapat tantangan untuk terus membuat mereka betah bekerja.

“Dari pengalaman kami, empat dari 10 perempuan meninggalkan pekerjaan beberapa bulan setelah bergabung karena permintaan keluarga,” ujar Redwan Aljelwah, pendiri konsultan rekrutmen berbasis di Riyadh, Mada, pada 2016.

Aljelwah juga mengatakan, permintaan untuk pekerja perempuan masih lebih rendah dibanding laki-laki.

Akan tetapi, Abalkhail mengatakan bahwa pemerintah memberikan lingkungan kerja yang aman bagi perempuan. Ia menambahkan bahwa Kementerian Tenaga Kerja dan Pengembangan Masyarakat menyediakan pelatihan untuk melatih kemampuan profesional demi membantu perempuan Saudi mendapatkan pekerjaan.

“Ketika perempuan bekerja, mereka tak lagi dipandang sebagai beban keluarga hingga akhirnya mereka menikah,” kata Aljalajel.

“Mereka memiliki pilihan untuk mandiri,” imbuh dia.

(liputan6/tow)